Selasa, 30 Mei 2017
Lafal Niat Puasa: Ramadlana atau Ramadlani?
Sebagaimana ibadah-ibadah lain, niat menjadi rukun yang mesti dilakukan dalam puasa Ramadhan. Niat adalah iktikad tanpa ragu untuk melaksanakan sebuah perbuatan. Kata kuncinya adalah adanya maksud secara sengaja bahwa setelah terbit fajar ia akan menunaikan puasa. Imam Syafi’I sendiri berpendapat bahwa makan sahur tidak dengan sendirinya dapat menggantikan kedudukan niat, kecuali apabila terbersit (khathara) dalam hatinya maksud untuk berpuasa. (al-Fiqh al-Islami, III, 1670-1678).
Meski niat adalah urusan hati, melafalkannya (talaffudh) akan membantu seseorang untuk menegaskan niat tersebut. Talaffudh berguna dalam memantapkan iktikad karena niat terekspresi dalam wujud yang konkret, yaitu bacaan atau lafal.
Tentang hal ini, sering kita jumpai beragam versi bacaan niat puasa. Perbedaan terutama ada pada bagian harakat kata رمضان; apakah ia dibaca ramadlâna atau ramadlâni. Sebagian masyarakat membaca lafal niat di malam hari seperti ini:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى
Menurut kaidah ilmu nahwu, redaksi tersebut keliru. Jika memaksa memilih membaca ramadlâna (dengan harakat fathah), maka pilihan yang paling mungkin kalimat selanjutnya adalah hâdzihis sanata (sebagai dharaf zaman/keterangan waktu), bukan hâdzhis sanati. Ramadlâna dibaca fathah sebagai ‘alamat jar karena termasuk isim ghairu munsharif yang ditandai dengan tambahan alif dan nun sebagai illatnya. Artinya, boleh membaca ramadlâna dengan syarat kalimat selanjutnya hâdzhis sanata. Namun, yang seperti ini jarang diungkapkan dalam kitab-kitab fiqih.
Yang paling lazim adalah membacanya dengan harakat kasrah, ramadlâni, yakni dengan meng-idhafah-kan (menggabungkan) dengan kata sesudahnya. Konsekuensinya, ia tidak lagi ghairu munsharif sehingga berlaku hukum sebagai isim mu’rab pada umumnya. Hal ini sesuai dengan ungkapan Al-‘Allâmah Abû ‘Abdillâh Muhammad Jamâluddîn ibn Mâlik at-Thâî alias Ibnu Malik dalam nadham Alfiyah:
وَجُرَّ بِالْفَتْحَةِ مَا لاَ يَنْصَرِفْ ¤ مَا لَمْ يُضَفْ اَوْ يَكُ بَعْدَ اَلْ رَدِفْ
“Tandailah jar isim ghairu munsharif dengan fathah, selagi tak di-idhafah-kan (digabung dengan kata setelahnya) atau tidak menempel setelah ‘al’.”
Jika ramadlâni diposisikan sebagai mudhaf (di samping sekaligus jadi mudhaf ilaih-nya "syahri") maka hadzihis sanati mesti berposisi sebagai mudhaf ilaih dan harus dibaca kasrah. Pembacaan dengan model mudhaf-mudhaf ilaih inilah yang paling dianjurkan. Sehingga bacaan yang tepat dan sempurna adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى
“Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta'ala.”
Yang perlu diingat, kekeliruan dalam melafalkan niat tak berpengaruh pada keabsahan puasa, selama terbesit dalam hati untuk berpuasa. Seperti dikatakan, niat berhubungan dengan getaran batin. Sehingga ucapan lisan hanya bersifat sekunder belaka. Tapi kekeliruan akan menimbulkan rasa janggal, terutama di mata para ahli gramatika Arab. Wallahu a'lam. (Mahbib Khoiron)
source: nu.or.id
Ini Doa Nabi Muhammad Saat Ramadhan Tiba
Ramadahan
merupakan bulan paling mulia dan dianjurkan memperbanyak amal baik. Umat
Islam, baik laki-laki ataupun perempuan, diwajibkan puasa di siang
harinya dan dianjurkan memperbanyak ibadah sunnah di malam harinya. Oleh
sebab itu, pada malam Ramadhan, umat Islam meramaikan masjid dengan
ibadah untuk menghidupkan malam Ramadhan.
Semasa hidupnya, Rasulullah SAW sangat menunggu kedatangan Ramadhan dan mempersiapkan diri agar bisa maksimal beribadah di bulan Ramadhan. Beliau juga memunajatkan doa-doa tertentu dalam rangka menyambut Ramadhan. Atas dasar itu, Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab mensunnahkan membaca doa ketika melihat hilal atau mengetahui tanda awal Ramadhan:
يستحب أن يدعو عند رؤية الهلال بما رواه طلحة بن عبيد الله رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا رأى الهلال قال اللهم أهله علينا باليمن والإيمان والسلامة والإسلام ربي وربك الله
Allâhumma ahillahu ‘alainâ bil yumni wal îmani was salâmati wal islâm. Rabbî wa rabbukallâh
Artinya, “Ya Allah jadikanlah hilal (bulan) ini bagi kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu (wahai bulan) adalah Allah.”
Doa ini dianjurkan untuk dibaca ketika melihat hilal sebagaimana dikisahkan Thalhah Ibn ‘Ubaidillah bahwa Nabi SAW saat melihat hilal membaca doa di atas.
Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi dan masih banyak hadis lain yang menjelaskan do’a Nabi SAW ketika masuk Ramadhan atau melihat hilal. Berdasarkan hadis tersebut, disunnahkan membaca do’a yang dilafalkan Nabi itu ketika melihat hilal Ramadhan atau setelah diumumkan bulan Ramadhan telah tiba. Dengan membaca do’a tersebut, harapannya umur kita dipanjang oleh Allah SWT, sehingga dapat menjalankan ibadah puasa sebulan penuh dalam keadaan beriman dan dikarunia kesehatan. Wallahu a’lam (Hengki Ferdiansyah)
soorce: nu.or.id
Semasa hidupnya, Rasulullah SAW sangat menunggu kedatangan Ramadhan dan mempersiapkan diri agar bisa maksimal beribadah di bulan Ramadhan. Beliau juga memunajatkan doa-doa tertentu dalam rangka menyambut Ramadhan. Atas dasar itu, Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab mensunnahkan membaca doa ketika melihat hilal atau mengetahui tanda awal Ramadhan:
يستحب أن يدعو عند رؤية الهلال بما رواه طلحة بن عبيد الله رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا رأى الهلال قال اللهم أهله علينا باليمن والإيمان والسلامة والإسلام ربي وربك الله
Allâhumma ahillahu ‘alainâ bil yumni wal îmani was salâmati wal islâm. Rabbî wa rabbukallâh
Artinya, “Ya Allah jadikanlah hilal (bulan) ini bagi kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu (wahai bulan) adalah Allah.”
Doa ini dianjurkan untuk dibaca ketika melihat hilal sebagaimana dikisahkan Thalhah Ibn ‘Ubaidillah bahwa Nabi SAW saat melihat hilal membaca doa di atas.
Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi dan masih banyak hadis lain yang menjelaskan do’a Nabi SAW ketika masuk Ramadhan atau melihat hilal. Berdasarkan hadis tersebut, disunnahkan membaca do’a yang dilafalkan Nabi itu ketika melihat hilal Ramadhan atau setelah diumumkan bulan Ramadhan telah tiba. Dengan membaca do’a tersebut, harapannya umur kita dipanjang oleh Allah SWT, sehingga dapat menjalankan ibadah puasa sebulan penuh dalam keadaan beriman dan dikarunia kesehatan. Wallahu a’lam (Hengki Ferdiansyah)
soorce: nu.or.id
AMALAN MEMPEROLEH KETURUNAN
Keturunan merupakan karunia Allah yang dinanti hampir semua mereka yang berumah tangga. Hanya saja karunia ini kadang segera datang, tetapi tidak jarang juga tertunda. Di sinilah kita harus mengakui keagungan Allah SWT karena Dia penentu segalanya.
Di samping melakukan ikhtiar medis, kita juga dianjurkan untuk bersabar menanti keturunan. Ada baiknya kalau penantian dan ikhtiar ini dibarengi dengan zikir berupa istighfar seperti saran Hasan Bashri RA, ulama besar di masa tabai‘in. Pasalnya, istighfar merupakan anak kunci yang dapat mengantarkan kita pada pelbagai kebaikan.
وشكا
رجل إلى الحسن البصري رضي الله عنه الجدب فقال: استغفر الله، وشكا إليه
آخر الفقر فقال: استغفر الله، وشكا إليه آخر عدم الولد فقال: استغفر الله،
وتلا عليهم جميعهم آيات الاستغفار
Artinya, “Seseorang menemui Hasan Basri RA. Ia mengadu masalah paceklik yang mendera. Hasan menganjurkan, ‘Mintalah ampun kepada Allah.’ Satu pergi, yang lain datang. Ia menceritakan kemiskinan yang tengah dialami. Hasan menyarankan, ‘Mintalah ampun kepada Allah.’ Datang lagi yang lain. Orang ini mengadu karena belum juga dikaruniai keturunan. Hasan berkata, ‘Mintalah ampun kepada Allah,’” (Lihat Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ma Dza fi Sya‘ban, cetakan pertama, tahun 1424 H, halaman 60).
Berikut ini kami kutip ayat Al-Quran yang menerangkan keutamaan amalan istighfar. Istighfar pada ayat berikut ini bisa dipahami sebagai pembuka jalan buntu dan pembebas dari kesulitan.
فَقُلْتُ
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ
السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ
وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12
Artinya, “Lalu aku berkata, ‘Mintalah ampun kepada Tuhanmu–Sungguh, Dia maha pengampun–niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat kepadamu, menolong kamu dengan harta benda dan anak-anak, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan menjadikan bebeapa sungai,’” (Surat Surat Nuh ayat 10-12).
Sementara pada ayat Al-Quran berikut ini, istighfar menjadi semacam pembuka pintu anugerah dan karunia Ilahi.
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى
Artinya, “Mintalah ampun kepada Tuhanmu dan tobatlah kepada-Nya, niscaya Dia memberikanmu kesenangan yang baik sampai batas tertentu,” (Surat Hud ayat 3).
Istighfar di sini bisa dipahami sebagai sebuah wasilah kepada Allah untuk hajat tertentu seperti memohon dikaruniai keturunan, ketersediaan cadangan air sebagai sumber pengairan cocok tanam, atau hajat finansial. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
source: nu.or.id
Sabtu, 27 Mei 2017
SALAM PERUBAHAN
Cipatat, 24/05/2017. Salam perubahan menggema usai pembacaan doa dan tawassul pada acara KOPDAR yang diselenggarakan PC GP ANSOR KBB di SITUS GUHA PAWON di Cipatat pada hari Rabu 24 Mei 2017 dengan tema "Menakar Partisipasi Politik Warga Nahdliyyin Kabupaten Bandung Barat"
Selain
jajaran pengurus PC dan PAC ANSER Se-Kbb turut hadir pula beberapa pengurus partai politik seperti; Ade Wawan
(DPC PKB), Syamsul Maarif (DPC PPP), Dadan Suparlan (Fraksi Golkar),
H.Yusuf Sugiana (Sekretaris PCNU) dan Deni Ahmad Haidar (Ketua PW Ansor
Jabar).
Cecep Nedi Sugilar sebagai Ketua PC GP Ansor KBB dalam sambutannya mengatakan bahwa semangat perubahan ditubuh ansor kbb sudah tidak bisa ditawar lagi, menurutnya acara KOPDAR ini dijadikan momentum yang tepat bahwa Anssor KBB hadir ditengah-tengah masyarakat dan warga Nahdliyyin Kabupaten Bandung Barat, dan bukan hanya sekedar omong kosong belaka dalam semangat perubahan ini. bahkan Kang Sopian selaku ketua panitia acara KOPDAR bahwa dalam mengarungi perubahan ini kita tidak boleh lembek tapi harus berani dan tegas.
H.Ade Wawan mengapresiasi dan mendukung sepenuhnya gelora semangat perubahan,
apalagi perubahan dalam cara pandang berpolitik para kader muda Ansor KBB.
Senada
dengan tema pada KOPDAR Ansor KBB, Syamsul maarif menyatakan bahwa hari
ini saatnya kaum muda untuk berpikir kritis dan maju untuk meneruskan
estafet kepemimpinan di Pemerintahan Bandung Barat.
Lain
halnya dengan Kang Dadan Supardan yang sangat menyayangkan kenapa
selama dua priode pemerintahan yang notabene didukung oleh Ansor, tapi Ansor KBB belum memiliki kantor sekretariat yang permanen.
Dari semua yang telah disampaikan pada acara tersebut diamini dan didukung
sepenuhnya oleh H.Yusuf Sugiana selaku Sekretaris PCNU KBB.
Dan terakhir Deni Ahmad Haidar selaku Ketua PW Ansor Jabar menegaskan bahwa dalam politik itu Ansor harus DIPERHITUNGKAN dan kalau tidak maka harus MEMBUAT PERHITUNGAN.
Jumat, 02 Desember 2016
Rasisme Dosa Pertama Iblis Laknatulloh
Khutbah I
اَلْحَمْدُ
للهِ الَّذِيْ أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ
الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ، ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ
مَهِينٍ، ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ
السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الكَرِيْم.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ
وَأَفْضلِ اْلأَنْبِيَاءِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبه أَجْمَعِيْنَ أَمَّا
بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه
وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ
تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ
الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا
تَفْضِيلًا
Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah,
Kita sering mendengar bahwa Iblis musuh abadi manusia. Iblis adalah makhluk terlaknat sekaligus simbol dari segala keburukan. Sejak awal diciptakannya manusia, yakni Nabi Adam, Iblis sudah menunjukkan permusuhannya. Kebenciannya kepada manusia sangat dalam, hingga ia rela memilih dikeluarkan dari surga dan menjadi makhluk terkutuk sepanjang masa, daripada harus hormat kepada manusia. Iblis pun bersumpah akan menjerumuskan manusia agar mengikuti jejaknya. Yang menjadi pertanyaan, penyakit apa yang bersarang dalam diri Iblis hingga nekad berbuat demikian?
Jawabannya tertuang jelas dalam Surat al-A’raf.
وَلَقَدْ
خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ
اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ
السَّاجِدِينَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menciptakan kamu (Adam) lalu Kami beri kamu bentuk, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Mereka pun bersujud, kecuali iblis; ia menolak bersama mereka yang bersujud. (QS [7]: 11)
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ. قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
“Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu bersujud (kepada Adam) ketika Kuperintahkan kepadaMu?’ Iblis menjawab, ‘Kami lebih baik daripada dia: Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Kauciptakan dari tanah’.” (QS [7]: 12)
Bersujud yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah sujud penghormatan, bukan sujud penyembahan. Meski sebatas sujud penghormatan, Iblis tetap berani membangkang terhadap perintah Tuhan. Iblis tentu percaya akan keberadaan atau kekuasaan Allah, tapi kesombongannya atas Nabi Adam membuatnya mengeluarkan sikap lancang itu. Iblis yang tercipta dari api merasa lebih unggul daripada Nabi Adam yang terbuat dari tanah.
Demikianlah keangkuhan makhluk bernama Iblis. Ternyata Iblis hanya mampu mempertimbangkan “kepada siapa dia harus bersujud” bukan “siapa yang memerintahkan dia untuk bersujud”. Yang mengejutkan tentu saja adalah alasan yang dia pakai, yakni mengandaikan adanya kelas atau derajat yang berbeda lantaran material penciptaan berbeda. Alasan primordialitas ini mirip dengan ketika kita mengatakan bahwa bangsa Eropa lebih beradab ketimbang bangsa non-Eropa atau sebaliknya, etnis Tionghoa lebih istimewa daripada suku Jawa atau sebaliknya, orang Arab lebih baik daripada orang Indonesia atau sebaliknya, dan seterusnya. Inilah rasisme, di mana kualitas dan keunggulan pribadi dinilai dari sudut pandang ras, suku, garis keturunan, warna kulit, atau ciri-ciri fisik lainnya.
Dengan demikian, rasisme yang masih berkembang di zaman modern ini sejatinya memiliki akar sejarah yang sangat lama, yaitu sejak manusia pertama kali diciptakan. Dengan bahasa lain, kejahatan makhluk yang paling purba adalah kesombongan yang lahir dari cara pandang rasis, yang dilakukan Iblis kepada Nabi Adam. Iblis memandang “ras api” lebih baik ketimbang “ras tanah”. Padahal, keunggulan makhluk satu sama lain di mata Allah ditentukan oleh tingkat ketakwaannya. Artinya, keistimewaan tersebut diraih lewat serangkaian ikhtiar dan prestasi, bukan diperoleh secara natural, seperti ras, darah, gen, suku, dan lainnya. Pandangan yang lebih adil ini pula yang semestinya diterapkan dalam hubungan sesama manusia.
Al-Qur’an berpesan:
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ
وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS al-Hujarat: 13)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ، أَلَا إِنَّ رَبكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَباكُمْ
وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، وَلَا
لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبيٍّ، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا
أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلَّا بالتَّقْوَى.
“Wahai manusia, ingatlah bahwa Tuhan kalian satu, dan bapak kalian juga satu. Ingatlah, tidak ada keunggulan bagi orang Arab atas orang ‘ajam (non-Arab), tidak pula orang ‘ajam atas orang Arab, tidak pula orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak pula orang berkulit hitam di atas orang berkulit merah; kecuali atas dasar ketakwaan. (HR Ahmad)
Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah,
Melalui ayat dan hadits tersebut, kita semua diingatkan untuk tidak membeda-bedakan keutamaan sesama manusia dari segi asal usul primordial. Seperti yang Iblis alami, rasisme menjerumuskan seseorang pada keangkuhan. Rasisme sukar diterima akal sehat karena mengandaikan kebaikan seseorang secara terberi begitu saja (take for granted). Rasulullah mengalihkan kecenderungan tidak adil ini kepada ketakwaan yang hanya bisa diraih lewat belajar, ikhtiar, komitmen, dan kerja keras. Artinya, menilai seseorang selayaknya berdasarkan prestasi-prestasi mereka secara objektif, bukan tampang, asal daerah, etnis, atau ras.
Rasisme dan kesombongan Iblis termasuk dosa yang cukup berat. Hal itu digambarkan Allah dengan pengusiran Iblis dari surga diikuti dengan vonis sebagai bagian dari golongan makhluk yang hina. Kendati demikian, permintaan Iblis untuk hidup lebih lama hingga hari kebangkitan dipenuhi Allah (QS [7]: 13-15), dan inilah kesempatan ia menjerumuskan manusia untuk mengikuti jejaknya sebagai makhluk yang ingkar, sombong, juga rasis.
Dari kisah Iblis tersebut kita diingatkan tentang tauhid sejati bahwa Allahlah satu-satunya pencipta seluruh makhluk di alam semesta ini (rabbul ‘âlamîn). Berangkat dari poin ini, kesadaran kita dibuka bahwa seluruh manusia sesunggunya adalah saudara dan setara. Yang membedakan mereka adalah kualitas ketakwaan mereka di hadapan Allah subhânahu wata‘âlâ.
Semoga kita semua terlindung dari tipu daya Iblis yang menjerumuskan manusia ke arah jalan yang sesat. Amin.
باَرَكَ
اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ
بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ
بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ
للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا
كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Alif Budi Luhur
Sumber : nu.or.id
Hormat kepada Kiai Lewat Wasilah Ayam
Pada suatu malam, Rahmat, si santri yang rajin dan patuh sedang membaca kitab Ta’lim Mutaallim.
Ia mendapati penjelasan bahwa seorang murid harus menghormati dan
ta’dzim pada kiai, keluarga bahkan binatang dan properti kiainya.
Rahmat
berpikir, mungkin sikap hormat ini juga akan mendatangkan apa yang
disebut berkah. Dia juga teringat beberapa cerita seorang santri yang
mempunyai ilmu laduni karena saking hormat kepada kiainya termasuk binatang miliknya.
Pada pagi harinya, saat menyapu halaman masjid, tiba-tiba Rahmat melihat seekor ayam jantan milik kiainya lewat di hadapannya.
Karena ingat penjelasan kitab yang semalam ia baca, Rahmat pun minggir teratur, menunduk serta memberi hormat pada binatang itu.
Beberapa teman santri hanya mlongo
saja melihat kelakukan Rahmat yang begitu ta’dzim kepada ayam lewat,
persis seperti ketika sang kiai melintas di hadapan para santri.
“Mat, ente sedang ngapain,” tanya salah satu santri bernama Ucup.
“Ini ayam milik kiai,” jawab Rahmat.
Seketika itu juga mereka serentak mengikuti gaya si Rahmat dengan hormat pada ayam kesayangan kiainya itu. (Fathoni)
Sumber: nu.or.id
Langganan:
Postingan (Atom)




